Islam adalah agama yang sangat memperhatikan hak asasi manusia, takter kecuali kepada budak. Para sahabat yang pernah membantu Rosulullah SAW, baik budak maupun orang merdeka, mereka merasa puas dengan sikap baik yang beliau berikan. Inilah contoh yang bisa dijadikan pedoman muamalah antara pimpinan dengan pekerjanya.
Ada beberapa hadits yang menunjukkan Islam menghargai terhadap hak buruh atau pekerja. Sebagian besar hadis itu berbicara tentang budak. Sehingga kita bisa menyimpulkan, bahwa jika budak saja diperlakukan terhormat oleh Islam, tentu pembantu dan buruh yang bukan budak, posisinya jauh lebih terhormat.

Ada Tujuh Hak Buruh dalam Islam Yaitu:

Pertama:  Islam memposisikan pembantu sebagaimana saudara majikannya. 
Nabi Muhammad SAW. bersabda:

إِخْوَانُكُمْخَوَلُكُمْ،جَعَلَهُمُاللهُتَحْتَأَيْدِيكُم                                                                                                                                                      
“Saudara kalian adalah budak kalian. Allah jadikan mereka dibawah kekuasaan kalian.”

Kedua: Majikan tidak boleh memberikan tugas kepada pembantu melebihi kemampuannya. Jikapun terpaksa, sang majikan harus membantunya.Seperti dalam hadis dikatakan:
“Janganlah kalian membebani mereka (budak), dan jika kalian memberikan tugas kepada mereka, bantulah mereka.” (HR. Bukhari)

Ketiga: Majikan diwajibkan untuk memberikan gaji pegawainya tepat waktu, tanpa dikurangi sedikit pun. Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَعْطُواالأَجِيرَأَجْرَهُقَبْلَأَنْيَجِفَّعَرَقُهُ
“Berikanlah upah pegawai (buruh), sebelum keringatnyakering.” (HR. Ibn Majah)

Keempat: Islam memberi peringatan keras kepada para majikan yang mendzalimi pembantu atau pegawainya. Dalam hadis qudsi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan, bahwa Allah berfirman:

ثَلاَثَةٌأَنَاخَصْمُهُمْيَوْمَالْقِيَامَةِ…وَرَجُلٌاسْتَأْجَرَأَجِيرًافَاسْتَوْفَىمِنْهُوَلَمْيُعْطِأَجْرَهُ
“Ada tiga orang, yang akan menjadi musuh-Ku pada hari kiamat: … orang yang mempekerjakan seorang buruh, si buruh memenuhi tugasnya, namun dia tidak memberikan upahnya (yang sesuai).” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah )

Kelima: Islam memotivasi para majikan agar meringankan beban pegawai dan pembantunya. Dari Amr bin Huwairits, Rosululloh SAW. bersabda:

مَاخَفَّفْتَعَنْخَادِمِكَمِنْعَمَلِهِكَانَلَكَأَجْرًافِيمَوَازِينِكَ
“Keringanan yang kamu berikan kepada budakmu, maka itu menjadi pahala di timbangan amalmu.” (HR. Ibn Hibban dalam shahihnya dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

Keenam:  Islam memotivasi agar para majikan dan atasan bersikap tawadhu yang berwibawa dengan buruh dan pembantunya. Dari Abu Hurairah, Nabi SAW. bersabda:

 “Bukan orang yang sombong, majikan yang makan bersama budaknya, mau mengendarai himar (kendaraan kelas bawah) di pasar, mau mengikat kambing dan memerah susunya.” (HR. Bukhari)

Ketujuh: Islam menekan semaksiamal mungkin sikap kasar kepada bawahan. Seorang utusan Allah, yang menguasai setengah dunia ketika itu, tidak pernah main tangan dengan bawahannya. Aisyah menceritakan:

مَاضَرَبَرَسُولُاللهِشَيْئًاقَطُّبِيَدِهِوَلاَامْرَأَةًوَلاَخَادِمًا
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul dengan tangannya sedikit pun, tidak kepada wanita, tidak pula budak.” (HR. Muslim)

Muhammad SAW. Dalam bersikap baik kepada pembantunya, bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga urusan akhirat. Beliau pernah memiliki seorang pembantu yang masih remaja beragama Yahudi. Suatu ketika si Yahudi ini sakit keras. Nabi pun menjenguknya dan memperhatikannya. Ketika merasa telah mendekati kematian, Rosululloh SAW. menjenguknya dan duduk di samping kepalanya. Beliau mengajak remaja tersebut  untuk masuk Islam. Remaja itu langsung melihat bapaknya, seolah ingin meminta pendapatnya. Si bapak mengatakan: ‘Taati Abul Qosim (nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).’ Dia pun masuk Islam. Setelah itu ruhnya keluar. Kemudia Nabi SAW. meninggalkan rumahnya dengan mengucapkan:

الْحَمْدُلِلَّهِالَّذِيأَنْقَذَهُمِنَالنَّارِ
“Segala puji bagi Dzat Yang telah menyelamatkannya dari neraka.” (HR. Bukhari)

Demikianlah, betapa indahnya adab yang diajarkan dalam Islam ketika bermuamalah dengan pembantu. Sayangnya, banyak kaum muslimin yang kurang memahami esensi ini, sehingga mereka justru menutupi keindahan ajaran agamanya sendiri..((Aje79))..
Meika

Meika

Meika hadir untuk melengkapi pasarkayu.

Post A Comment:

0 comments:

Kolom ini, diperuntukan saling koresponden dan berbagai informasi. Mohon memberikan :

IDENTITAS YANG BISA DIHUBUNGI [ NO HP / EMAIL ]
( Jika tidak ada identitas, komentar akan dihapus )